Amran Akui Ada Tapi Mentan era SBY Meragukannya, Dua Menteri Beda Pendapat Tentang Mafia Beras.

Menurut mantan Menteri Pertanian ini Anton Apriantono, keberadaan mafia Beras tidak pernah jelas wujud dan kriterianya.

Bagi dia, permasalahan beras hari ini tidak juga kunjung terselesaikan usai penutupan PT Indo Beras Unggul (IBU) Bekasi yang sempat disebut-sebut sebagai mafia beras.

“Ya sekarang buktinya tidak selesai juga setelah tutup TPS dan IBU. Sebenarnya, kalau mau jujur, Mafia Beras ini tidak pernah jelas. Wujudnya seperti apa? Standar mafia itu seperti apa? Tapi, ini terus menjadi momok,” kata Anton kepada Tribun di Jakarta.

Sebelumnya, Juli 2017, Tim Satuan Tugas (Satgas) Ketahanan Pangan dan Operasi Penurunan Harga Beras Mabes Polri menggerebek gudang beras di Jalan Raya Rengas Bandung, Bekasi, mengungkap banyak hal. Di antaranya dugaan tindak pidana pemalsuan, kecurangan, dan orang-orang di balik perusahaan pemilik gudang beras tersebut.

PT IBU merupakan anak perusahaan PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS). Selain PT IBU, PT TPS juga memiliki anak perusahaan serupa yaitu PT SAKTI. Dalam situs resmi PT TPS, tigapilar.com, disebutkan PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (TPSF) merupakan perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2003 yang pada awalnya hanya bergerak di bisnis makanan (TPS Food).

Menteri pertanian Andi Akui Banyaknya Mafia-mafia

Menteri pertanian Andi Akui Banyaknya Mafia-mafia

Menteri pertanian Andi Amran Sulaiman akui apa yang di ketahuinya selama ini beras kerap dipengaruhi dengan banyaknya mafia yang mengambil keuntungan-keuntungan.

Namun menteri pertanian pada era kepemerintahan Susilo Bambang Yudoyono, Anton pun meragukan akan hal itu terhadapnya.

“Mafianya macam-macam, mafia impor, mafia beras oplosan, mafia pupuk. Bayangkan, pupuk yang biasa kita berikan ke petani adalah pupuk palsu,” kata Menteri Amran, 16 Januari 2019.

Amran mengungkapkan tidak menutup kemungkinan bahwa jumlah ini masih terus bertambah selama ada laporan dari masyarakat dan upaya penindakan dari Satgas Pangan.

Amran menyebutkan bahwa sekitar 20 perusahaan di antaranya merupakan mafia yang memalsukan pupuk bantuan kepada petani. “Pupuk palsu, itu kalau tidak salah ada 20-an perusahaan kami kirim penjara. Bayangkan, petani diberikan pupuk palsu, produksi petani hancur kemudian tidak mendapatkan apa-apa dan merugi,” ungkap Amran.

Persoalan beras seharusnya tidak lagi dipolitisasi. Dia menyinggung terkait harga beras di Indonesia yang diberitakan paling mahal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *