Diaktifkannya E-tilang Karena Cctv sangat Efektif Mengurangi Pelanggaran Lalu Lintas

Uji coba ini sudah dilakukan sejak 2 bulan yang lalu, tapi baru sekarang ini diberlakukannya. Sejauh ini lumayan efektif. Dalam 24 hari, sudah 3.624 kendaraan kena tilang. Bukan petugas yang meniup peluit, tapi rekaman CCTV yang jadi bukti. Dua kamera pengawas disiagakan di dua jalan protokol itu.

Sistem e-tilang juga tak pandang bulu. Tak peduli pelat hitam, merah, atau apapun. Milik awam atau pejabat, tidak ada perkecualian. Jika memang salah dalam berlalu lintas atau melanggar aturan rambu yang ada tetap mendapatkan sanksi yakni e-tilang.

“Yang pelat hitam ada 2.777 kendaraan, pelat kuning atau angkutan umum 639 kendaraan, mobil dinas TNI dan Polri 53 kendaraan, pelat merah 60 kendaraan, pelat luar DKI Jakarta 69 kendaraan, dan mobil kedutaan 16 kendaraan. Ini data saat uji coba dilakukan hingga akhir November,” ucap Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya,

Saat dimintai pendapat, pengamat transportasi dari Universitas Indonesia, Ellen Tangkudung berpendapat, penerapan sistem e-tilang sudah terbukti sangat efektif dalam mengurangi pelanggaran berlalu lintas khususnya untuk kota-kota yang terbilang paling sibuk seperti Jakarta ini.

Namun demikian, adanya perubahan teknologi dari yang awalnya serba manual, menjadi online, harus diiringi dengan kesadaran pengendara untuk bersikap tertib dan harus ada keinginan dari pengendara tersbut.

Diaktifkannya E-tilang Karena Cctv sangat Efektif Mengurangi Pelanggaran Lalu Lintas

Electronic Traffic Law Enforcement di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman dan MH Thamrin.

Dosen perempuan itu menganggap bila angka pelanggaran lalu lintas meningkat drastis saat uji coba e-tilang dilakukan. Pasalnya, melalui teknologi CCTV, seluruh kendaraan dapat terdeteksi. Berbeda dengan sistem tilang manual yang sepenuhnya mengandalkan mata petugas di lapangan.

Setidaknya ada tiga hal yang membuat tilang elektronik efektif. Pertama, tidak adanya interaksi langsung dengan petugas. Menurut Ellen, cara itu dinilai cukup ampuh mengurangi praktik kecurangan yang dilakukan oleh pelanggar, maupun petugas kepolisian di jalan.

“Tentu diharapkan tidak ada lagi deal-deal antara pelanggar dan polisi di jalan, Jadi enggak ada lagi istilah ‘damai di tempat’,” kata dia.

Selanjutnya, menurut Ellen, harus ada basic data yang akurat dari registrasi dan identifikasi kendaraan. Sehingga tidak terjadi kebingungan dari kedua pihak dalam penegakan hukum.

“Nomor pelat mobil mesti diperhatikan, mobil harus akurat karena elektronik mengandalkan data,” singkat dia.

Sedangkan ketiga, sosialisasi kepada masyarakat harus lah tepat sasaran, hal ini berdampak pada pengetahuan masyarakat jika terbukti melanggar. Selain itu menurut Ellen, pengawasan terhadap penerapan sistem tersebut juga harus diperketat.

“SOP jelas, masyarakat tahu efek melanggar, dan petugas tahu jika berlaku curang, maka pungli dapat dihindari,” terang dia.

Ellen pun menekankan agar aturan E-TLE ini dibarengi dengan upaya Polri membenahi para polisi ‘nakal’ yang masih kerap bermain-main dengan aturan. “Harus ada dari bidang SDM yang menindak tegas polisi bandel,” ucap dia.

“Dengan e-tilang gampang dendanya kalau dengan manusia kan manual, tiba-tiba kena, kalau tidak terihat tidak kena (tilang),” tambah dia

Selain itu, kelebihan lain e-tilang, menurut Bambang, adalah membentuk basis data.

“Kita membangun database yang masih belum optimal. Dengan diterapkan maka secara langsung database kendaraan otomatis terbangun,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *