KNKT Menggandeng Boeing Untuk Melanjutkan Investigasi. Atas Jatuhnya Lion Air.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi akan melanjutkan investigasi pasca-merilis laporan awal tentang jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP di perairan Tanjung Karawang pada akhir bulan lalu. Tim investigasi KNKT akan berangkat ke Amerika Serikat pemeriksaan bersama National Transportation Safety Board dan Boeing.

Ketua Sub-Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo, mengatakan akan ada pembahasan terhadap masalah teknis dan operasi hingga 18 Desember mendatang. “Kami akan evaluasi,” kata Nurcahyo di kantor KNKT, Rabu, 28 November 2018.

Pembahasan lanjutan juga akan diikuti Biro Investigasi Keselamatan Transportasi Singapura dan Biro Keselamatan Transportasi Australia yang memberikan bantuan selama proses investigasi awal. Laporan awal investigasi KNKT yang dirilis kemarin mengungkapkan setidaknya enam masalah teknis pada indikator kecepatan (airspeed) dan ketinggian di kendali kiri pesawat. Masalah serupa ditemukan pada empat penerbangan PK-LQP sebelum musibah terjadi.

Data log pesawat mencatat adanya upaya perbaikan, termasuk penggantian sensor angle of attack pesawat jenis Boeing 737 Max 8 tersebut di Denpasar. Namun masalah tetap timbul pada penerbangan Denpasar-Jakarta, sehari sebelum kejadian.

Pilot mengalami masalah dengan indikator kecepatan terbang dan juga mengalami penurunan hidung otomatis. Selain itu, digital flight data recorder mencatat setang kemudi pilot yang terus bergetar sesaat sebelum lepas landas dan berlangsung selama penerbangan.

Masalah ini kembali muncul dalam penerbangan Jakarta-Pangkalpinang. Pilot asal India, Bhayve Suneja, kebingungan dengan masalah yang sama karena data AoA yang salah. “Seperti pada penerbangan sebelumnya, pesawat mengalami penurunan hidung otomatis,” ujar Nurcahyo.
Data DFDR yang ditemukan empat hari setelah pesawat jatuh mencatat adanya perbedaan antara AoA kiri dan kanan sekitar 20 derajat. Kapten Bhayve kemudian berusaha mengangkat moncong pesawat dengan menarik kendali di sayap utama.

Namun hal ini otomatis dibalas dengan gerakan menukik dari perangkat sayap di ekor. “Hal ini berlanjut selama penerbangan. Hingga pada pukul 06.32 WIB, DFDR berhenti merekam data,” kata Haryo Satmiko, Wakil Ketua KNKT.

Meski begitu Nurcahyo menjelaskan, data yang dikeluarkan bukan kesimpulan akhir untuk menunjukkan pihak bersalah dalam kecelakaan tersebut, melainkan sebagai rekomendasi perbaikan aspek keselamatan bagi sejumlah pihak, seperti Lion Air, Boeing, dan regulator.

Rekomendasi kepada Lion, misalnya, meminta adanya perbaikan implementasi manual dokumen penerbangan. Nurcahyo menyebutkan, dalam penerbangan dari Jakarta ke Pangkalpinang terdapat perbedaan data manifes, kru pramugari sebanyak lima orang, tapi dalam pesawat terdapat enam orang.

Boeing lewat keterangan tertulis menyatakan siap membantu KNKT dalam investigasi ini. Mereka menegaskan bahwa aspek keselamatan adalah hal terpenting. “Bagi pelanggan dan penumpang, kami jamin bahwa Pesawat 737 MAX sama amannya dengan pesawat lain yang pernah mengudara sebelumnya,” tulis Boeing Company di situs resmi mereka.

Sementara itu, Asosiasi Maskapai Penerbangan Indonesia alias INACA menyebut perusahaan pabrikan pesawat The Boeing Company mesti ikut bertanggung jawab dalam perkara kecelakaan penerbangan Lion Air JT-610 pada 29 Oktober 2018. “Kami lihat ini ada masalah apa dengan pesawatnya, pabrikannya lebih tahu bahwa pesawat ini betul bagus atau bagaimana,” ujar Sekjen INCA Tengku Burhanuddin di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis, 29 November 2018.

Burhanuddin mengibaratkan pabrik pesawat layaknya pabrik telepon genggam yang mengeluarkan ribuan ponsel. Dari ribuan ponsel itu, ujar dia, pasti lah ada satu permasalahan yang bisa terjadi. Ihwal persoalan itu, ia yakin pihak pabrikan lebih tahu. “Saya tidak mengetahui secara menyeluruh tapi pasti ada masalah dengan pesawat, itu mesti kita lihat dan kita cek,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *