Kunci Kesuksesan Steve Jobs Membawa Apple Ke Puncak Kesuksesan

Apple yang didirikan Steve Jobs sedang dalam masa kejayaan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa setiap kali Apple mengeluarkan perangkat baru, pasti banyak vendor yang langsung ikut meniru.

Banyak orang yang mengagumi Jobs sebagai sumber semangat untuk melakukan inovasi. Tentu inovasi itu penting, tapi ternyata setelah melakukan inovasi, Jobs memiliki kunci lain, yaitu kesabaran.

Howard Yu, seorang penulis dan profesor manajemen dan inovasi dari Sekolah Bisnis IMD, menjabarkan kebijaksanaan dan kesabaran Jobs dalam memperhatikan kondisi sebelum mengambil langkah.

Ternyata, salah satunya adalah kesabaran menunggu saat yang tepat. Hal ini tercermin lewat kutipan Jobs berikut ini.

Yu menjelaskan bahwa ucapan Steve Jobs tersebut mengarah pada fakta ia menunggu sampai dua tahun sebelum menemukan kesempatan untuk meluncurkan iPod ke pasaran. “Pihak-pihak lain langsung terjun dan merilis MP3 Player mereka, tapi gagal,” jelas Yu.
Ia menjelaskan kegagalan produk lain sebelum iPod dikarenakan pada saat itu broadband internet masih lambat, sehingga pengguna MP3 Player jadi ikut kesulitan melakukan download lagu.

“Jobs menunggu dulu sampai terjadi peningkatan kualitas broadband yang akhirnya terjadi,” tandasnya.

Lewat pengalaman Steve Jobs, Yu menjelaskan butuhnya disiplin dalam menunggu dan tekad untuk terus maju, karena dua hal itu dapat menghasilkan kepemimpinan yang efektif.

Nasihat Steve Jobs yang Bisa Diikuti Anak Muda

Hampir tujuh tahun setelah kematiannya, Steve Jobs tetap punya pengaruh di industri teknologi. Pada 12 Juni 2005, Steve Jobs datang ke Universitas Stanford di California untuk memberikan pidato bagi para wisudawan.

Di sana, dengan gaya monoton, sang pendiri Apple menyampaikan kisahnya pada seluruh dunia. Berikut rangkuman pesan-pesan dari pidato Steve Jobs di Universitas Stanford.

1. Genggam Erat Kepercayaan, Bukan Rasa Takut

Di awal pidatonya, Steve Jobs menekankan betapa pentingnya mengikuti kata hati, walau pada saat itu mungkin masih tidak jelas hati kita akan membawa kita ke mana.

Semasa muda, Jobs tidak suka dengan mata kuliah wajib yang ia harus ikuti, akhirnya ia memilih keluar saja agar bisa belajar hal-hal yang disukai. Ia malah memutuskan ikut kelas kaligrafi semata-mata karena suka keindahannya, padahal ia sadar kelas kaligrafi tidaklah praktis sebagai bekal karir.

Berkat kelas kaligrafi yang awalnya terkesan tidak berguna, Jobs jadi paham cara mengatur fonts dan tipografi komputer yang indah.

Jobs mengatakan, “Kau harus percaya bahwa titik-titik (dalam hidup) pasti akan terhubung di masa depan. Kau harus percaya pada sesuatu, dorongan hati, takdir, kehidupan, karma, apapun. Cara ini tidak pernah mengecewakanku, dan telah membuat banyak perbedaan dalam hidup saya.”

2. Kegagalan Hanyalah Awal yang Bar

Pada usia 20 tahun, Jobs dan sahabatnya Steve Wozniak memulai Apple di garasi orang tua Jobs.

Dimulai kerja di garasi, mereka membangun perusahaan yang pada akhirnya senilai 2 triliun dolar serta mempekerjakan 4.000 karyawan.

Kemudian Steve Jobs dipecat. Saat itu ia menginjak usia 30 tahun. Ia dipecat karena jajaran eksekutif di Apple tidak setuju pada Jobs, dan lebih membela orang lain yang justru Jobs pekerjakan. 10 tahun usaha pun hilang begitu saja dan ia memutuskan untuk memulai kembali dari nol.

Setelahnya, mendirikan perusahaan bernama NeXT dan ia membeli perusahaan bernama Graphics Group. NeXT ternyata sukses besar, lalu Apple membeli NeXT, akibatnya Jobs kembali lagi sebagai petinggi Apple.

3. Ingat Kematian

Setahun sebelum memberikan pidato di Stanford, Jobs didiagnosis kanker. Kata, dokter ia hanya dapat hidup maksimal enam bulan.
“Tidak ada yang ingin mati. Bahkan orang-orang yang mau pergi ke surga tidak mau mati untuk sampai ke sana,” ujar Jobs. Meski begitu, Jobs tidak takut. Ia malah mengatakan bahwa kematian adalah hal yang baik.

Dengan ingat mati, Jobs menjadi tidak takut kehilangan. Dan hal itu membuat berani terus mengikuti kata hatinya dan tidak gampang terpengaruhi hal-hal eksternal yang tidak penting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *